ODILON
Sang penguasa malam kian menghilang. Angsa jantan itu tertatih meninggalkan telaga indah, ditaburi bintang akibat pantulan tirta yang begitu menakjubkan. Ah, benar, kalian pasti bertanya-tanya tentang kata ‘tertatih’, bukan? Ya, seperti yang kalian pikirkan, makhluk indah itu terbaring lemas di pinggir telaga dengan luka di sekujur sayapnya.
Odilon, isak tangisnya yang begitu lirih terdengar bagai lantunan melodi pengantar tidur nan indah bagi para penghuni hutan. Tak ada satu pun yang peduli. Mereka benar-benar kecewa dengan apa yang baru saja terjadi. Pertunjukan yang mereka nantikan, mereka idam-idamkan, dan mereka damba-dambakan seketika sirna direnggut oleh keheningan malam. Hanya dengan satu kepakan sayap yang makhluk itu lakukan, mampu membuat keheningan malam itu sirna digantikan riuhnya pertanyaan dari para penghuni hutan.
“Di mana Odette?”
Hinaan dan cacian mereka layangkan untuk sang Angsa Jantan. Benturan antara batu dan sayap sang pemilik raga indah itu membuat sorak-sorai gembira dari para penghuni hutan. Mereka menginginkan Odette, kenapa angsa jantan itu yang mengepakkan sayapnya di atas telaga.
Dan di sinilah makhluk indah itu terkapar lemas, meringis kecil meminta pertolongan kepada-Nya. Angsa itu tahu, ia bukanlah Odette yang memiliki paras nan indah dan menawan. Namun, apa yang salah? Ia bisa terbang dan mengepakan sayap halusnya menggantikan sang Odette. Mengapa semua orang begitu membencinya? Apakah hanya karena dia seekor pejantan?
“Aku hanya ingin mengepakkan sayapku. Kumohon– setidaknya, izinkan aku mengepakkan sayapku walau hanya tujuh kali.”
Tidak, Odilon, tidak ‘hanya’. Namun, memang seorang pejantan tidak dilahirkan untuk ada di atas telaga, apalagi melakukan sebuah pertunjukan. Itu merupakan hal tabu untukmu. Seharusnya kamu memandang penuh damba kepada sang Odette dan bermimpi untuk dapat menjadi pasangannya. Seharusnya kamu ada di antara para penghuni hutan, menyaksikan sang Odette mengepakkan sayapnya yang begitu menakjubkan, seperti yang biasa kau lakukan sebelumnya. Bukan bermimpi untuk dapat seperti dia, ataupun menggantikannya walau hanya dalam satu malam.
Ya, Odilon. Seharusnya kamu mengubur dalam-dalam keinginan gilamu itu. Namun, yang kau lakukan justru melambungkan egomu yang membara, menembus sang bumantara. Sekarang lihatlah, bukan hanya para penghuni hutan yang tidak ingin kamu berada di atas telaga. Cahaya malam telah hilang, hanya gelap gulita tanpa hiasan bintang.
“Bahkan sang penguasa malam enggan untuk melihatku.”
Namun, teman-teman sekalian, apakah kalian tahu? Ini bukanlah kisah sang angsa jantan yang tak dapat mengepakkan sayapnya di atas telaga.
Komentar
Posting Komentar